IMAJI: Film, Fotografi, Televisi, & Media Baru https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI <p>Jurnal IMAJI mewadahi kumpulan berbagai topik kajian film/audio visual yang berisi gagasan, penelitian, maupun pandangan kritis, segar, dan inovatif mengenai perkembangan fenomenal perfilman khususnya dan audio visual pada umumnya. Jurnal ini bertujuan untuk memberikan sumbangan penelitian terhadap medium film serta audio visual yang diharapkan dapat mendorong perkembangan perfilman, termasuk fotografi, televisi dan media baru di Indonesia, agar menjadi unggul dan kompetitif di tingkat nasional dan di dunia internasional.</p> en-US <p>Jurnal IMAJI (ISSN Online: 2775-6033 | ISSN Print: 1907-3097 ) is <a href="https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/" target="_blank" rel="noopener">licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License..</a></p> adityapratama@ikj.ac.id (Muhammad Aditya Pratama) marselli@ikj.ac.id (Marselli Sumarno) Sat, 31 Jul 2021 00:00:00 +0000 OJS 3.3.0.2 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Wawancara: Joko Anwar https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/53 <p>Dalam rubrik Jurnal IMAJI terbaru kali ini kami menghadirkan wawancara secara mendalam dengan Joko Anwar, mengulik pengalaman masa kecilnya serta menelisik lebih jauh terhadap proses melahirkan sebuah film yang dihasilkan oleh beliau.</p> <p>Nama Joko Anwar tentunya sudah dikenal luas oleh publik sebagai salah satu seorang sutradara ternama di Indonesia. Film-film yang pernah disutradarai beliau diantaranya adalah <em>Janji Joni </em>(2005), <em>Modus Anomali</em> (2012), <em>Pintu Terlarang</em> (2009), dan <em>Perempuan Tanah Jahanam</em> (2019).</p> <p>Mari kita simak!</p> Jurnal IMAJI Copyright (c) 2021 Copyright (c) 2021 IMAJI: Film, Fotografi, Televisi, & Media Baru https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/53 Sat, 31 Jul 2021 00:00:00 +0000 Konsekuensi Representasi Propaganda Budaya dan Ideologi dalam Film https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/47 <p>Merepresentasikan propaganda budaya dan ideologi memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekadar merepresentasikan pesan informatif. Artikel ini bertujuan untuk menelaah konsekuensi dari propaganda budaya dan ideologi jika direpresentasikan di dalam film. Pembahasannya bersifat kualitatif menggunakan data dari beberapa artikel film ditambah pengalaman Penulis dalam berinteraksi dengan para pembuat film, serta pengalaman menonton film bersama masyarakat. Kajiannya lebih dititikberatkan pada perspektif penonton awam yang tidak mengetahui teori semiotika. Hasilnya disimpulkan melalui lima konsekuensi, yaitu: (1) munculnya persepsi penonton yang berbeda dari yang diharapkan; (2) munculnya perbedaan perilaku penonton akibat dari perbedaan interpretasi terhadap representasi yang diterimanya; (3) dampak dari sifat komunikasi, yaitu pesan yang direpresentasikan dalam film bersifat <em>irreversible</em>; (4) munculnya anggapan bahwa dalam proses pembuatan film ada problem etika; dan (5) kesan totalitas isi film menjadi kabur akibat pesan ganda yang direpresentasikan.</p> <p><em> </em></p> Maman Wijaya Copyright (c) 2021 IMAJI: Film, Fotografi, Televisi, & Media Baru https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/47 Sat, 31 Jul 2021 00:00:00 +0000 Setelah Kesunyian 50 Tahun Disuarakan Lewat Buku dan Film Dokumenter https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/48 <p>Tak banyak orang membaca berita mengenai kepulangan Jan Ruff-O’Herne pada pagi tanggal 19 Agustus 2019 di rumahnya, di Adelaide, Australia, dikelilingi oleh anak, cucu dan cucu buyutnya. Usianya 96 tahun. Jan Ruff-O’Herne meninggalkan jejak perjuangan selama lebih lima dekade untuk berkampanye melawan pemerkosaan dalam perang dan menghabiskan sisa hidupnya untuk merebut kembali martabatnya. Dia adalah perempuan Eropa pertama yang berani bersaksi di depan publik secara terbuka. Dia merobek kebisuan sejarah hitam yang ditolak untuk waktu yang sangat lama oleh pihak yang melakukannya. Untuk itu, dia menerima berbagai penghargaan, di antaranya dari Pemerintah Australia, Pemerintah Belanda, dan Vatikan. O’Herne adalah salah satu dari sedikit perempuan Eropa di wilayah pendudukan Jepang selama Perang Dunia II yang dipaksa menjadi budak seks. Sebagian besar berasal dari Asia, yakni Korea (terbesar), Indonesia, Filipina, China dan Taiwan. Dia menjadi satu-satunya survivor yang berjuang untuk menolak penggunaan istilah “comfort women”. <em>Comfort</em> mengandung arti sesuatu yang lembut aman dan ramah. “Kami ini korban perkosaan dan serangan seksual dalam masa perang oleh tentara Kerajaan Jepang”. O’Herne menuntut permintaan maaf Pemerintah Jepang secara pribadi dan berada dalam barisan survivor yang menolak kompensasi berupa uang dari Asian Women Fund. Dia juga menekankan bagaimana perkosaan menjadi alat untuk menundukkan dalam perang sehingga harus dilihat sebagai kejahatan kriminal perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dan yang menarik lainnya adalah testimoni atas Jan Ruff-O’Herne ini juga dibentuk menjadi sebuah film dokumenter yang diproduksi di Australia dengan sutradara Ned Lander, berjudul <em>50 Years of Silence</em> (1994).</p> <p><em> </em></p> Maria Hartiningsih Copyright (c) 2021 IMAJI: Film, Fotografi, Televisi, & Media Baru https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/48 Sat, 31 Jul 2021 00:00:00 +0000 The Lady dan Wajah Politik Negara Myanmar https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/52 <p>Melalui film, <em>framing</em> akan suatu peristiwa, tokoh, sejarah, maupun masa depan dapat diciptakan. <em>The Lady</em> adalah salah satu film yang mempertontonkan framing positif akan seorang tokoh tanpa cacat dan kultus walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu. Aung San Suu Kyi adalah tokoh nyata yang difilmkan dalam <em>The Lady</em> dengan menceritakan dirinya yang pro demokrasi dan anti kekerasan. Jurnal ini menggunakan teori konstruktivisme untuk menganalisis <em>framing</em> yang ada dalam sebuah film dapat berpengaruh sangat kuat dan liar terhadap penikmat film tersebut (baca: The Lady).</p> <p><em> </em></p> Nia Sari Copyright (c) 2021 IMAJI: Film, Fotografi, Televisi, & Media Baru https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/52 Sat, 31 Jul 2021 00:00:00 +0000 Antara Rusia dan Indonesia: Petualangan film dan budaya dari Awal Uzhara https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/50 <p>Para penikmat sinema di Indonesia tentu tidak asing dengan nama-nama seperti Sjumandjaja, Sukarno M. Noor, Bing Slamet dan banyak lagi lainnya. Mereka adalah nama-nama besar yang pernah menghiasi dunia film Indonesia dan berjaya dimasa nya, bahkan hingga saat ini nama dan karyanya masih sering kita perbincangkan. Tetapi, jika kita mau sedikit menilik kembali sejarah secara mendetail, kita semua telah luput pada satu nama yaitu Awal Uzhara, nama yang seharusnya dapat diperhitungkan di jagat sinema Indonesia jika saja nasib buruk terkait peristiwa G30S tidak menimpanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang Awal Uzhara dan proses pengkaryaan Awal Uzhara sebagai seorang sutradara, aktor maupun pelaku seni. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif, dan pengumpulan data dilakukan dengan tekhnik observasi, wawancara dan dokumentasi.</p> <p><em> </em></p> Gilang Bayu Santoso Copyright (c) 2021 IMAJI: Film, Fotografi, Televisi, & Media Baru https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/50 Sat, 31 Jul 2021 00:00:00 +0000 Hiburan Film yang Mengeksploitasi Kesedihan Sebagai Sarana Eskapisme dalam Realitas Kehidupan Manusia https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/51 <p><em>Human relations and entertainment always involve many aspects. In this case, the work of art becomes one of the elements that can give pleasure to humans and at the same time become a place for emotional escape. A study offers the view that through music, humans dissolve in sadness that they deliberately seek to make happy. Likewise, film works, through cognitive and psychosocial aspects, offer melodrama which ultimately provides motivation for the emotions of the audience, and cognitive mechanisms that make it possible to enjoy negative emotional experiences in the aesthetic context of storytelling in films.</em></p> Suryana Paramita Copyright (c) 2021 IMAJI: Film, Fotografi, Televisi, & Media Baru https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/51 Sat, 31 Jul 2021 00:00:00 +0000 Warna dalam Dunia Visual https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/49 <p>Kehidupan sehari-hari menghadirkan sebuah pandangan sebagai pembelajaran dari apa yang dialami dan dilihat. Apa yang dilihat belum tentu juga dapat dikenali dengan baik, dan kemudian diperhatikan sebagai satu pemikiran. Warna merupakan bagian kehidupan manusia sejak lahir, mata merupakan bagian pertama yang mampu melihat dan memproses bentuk pengirim sinyal getaran yang kemudian membuat kita dapat mengenali nama warna sampai psikologi warna sebagai pemakna dari warna itu sendiri. Seni yang berkaitan dengan rupa warna seperti seni rupa, fotografi dan film tidak akan lepas dari bagaimana warna dapat diterjemahkan ke dalam ruang ekspresi. Proses sistem rekam dari akumulasi memori visual menjadi penentu pengalaman visual berkembang dan memiliki makna tersirat.</p> <p><em> </em></p> Dedih Nur Fajar Paksi Copyright (c) 2021 IMAJI: Film, Fotografi, Televisi, & Media Baru https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/49 Sat, 31 Jul 2021 00:00:00 +0000