Implementasi Ruang Kosmis Jawa dalam Mise-en-Scene Rembulan dan Matahari Karya Ki Slamet Rahardjo Djarot

Authors

  • Eric Gunawan Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta

Abstract

Tentu kita semua setuju bahwa film merupakan bagian dari budaya, dan keberadaan film tidak terpisahkan dari budaya. Namun, hanya sebagian yang akan mendukung apabila dikatakan bahwa sejarah menggema pada film. bahkan seluruh beban masa lalu dibenamkan pada teks film. Mereka yang mendukung adalah yang melihat bentuk-bentuk pada dirinya sendiri sudah mengandung sejarah, sedangkan yang tidak setuju adalah mereka yang mempersempit sejarah sebatas konteks dan materi sejarah yang berhubungan dengan style. Pendukung pendapat pertama memahami referential meaning yakni makna yang tersurat pada film, dalam ruang lingkup tidak dapat dipisahkan antara sejarah dan komunitas interpretasinya mengingat style, ideologi. filosofi dan sejarah adalah hubungan yang berbaur. Oleh sebab itu. explicit. implicit dan symptomatic dipahami sebagai lapisan yang saling berkaitan dalam proses pemaknaan. Sedangkan, bagi pendukung paham kedua. makna di luar referential tidak dianggap perlu keberadaannya, jika pun ternyata ada maknanya dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan sebab telah lepas dari apa yang tersurat pada teks. Maka, mereka melihat explicit, implicit, dan symptomatic hanya sebatas salah satu kemungkinan tipe pemaknaan, dan sama sekali tidak berkaitan.

Published

2024-01-15

How to Cite

Gunawan, E. (2024). Implementasi Ruang Kosmis Jawa dalam Mise-en-Scene Rembulan dan Matahari Karya Ki Slamet Rahardjo Djarot. IMAJI, 1(5), 30–52. Retrieved from https://imaji.ikj.ac.id/index.php/IMAJI/article/view/159

Issue

Section

Articles